Jangan Terlewat! Inilah Daftar Imunisasi Anak Lengkap dari Lahir hingga 18 Tahun
Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh sehat dan kuat. Salah satu cara paling sederhana untuk memastikan hal itu adalah dengan memberikan imunisasi anak lengkap sesuai jadwal. Imunisasi akan memberikan perlindungan jangka panjang dari berbagai penyakit yang bisa datang tanpa tanda.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum tahu urutan dan waktu pemberian vaksin yang tepat. Akibatnya, ada yang terlewat, bahkan ada yang baru sadar pentingnya imunisasi setelah anak jatuh sakit. Padahal, mencegah selalu jauh lebih mudah daripada mengobati.
Daftar Imunisasi Anak Lengkap dan Wajib
Buat sebagian orang tua, jadwal imunisasi anak lengkap memang terdengar rumit. Ada banyak nama vaksin, usia pemberian, dan kadang berbeda antara satu anak dengan yang lain.
Tapi sebenarnya, semuanya bisa dipahami kalau dijelaskan dengan cara yang sederhana. Imunisasi bukan hal menakutkan, justru bentuk kasih sayang paling nyata dari orang tua pada anaknya. Karena lewat perlindungan kecil ini, anak punya peluang tumbuh tanpa harus menghadapi risiko penyakit berat di masa depan.
Berikut daftar imunisasi anak lengkap yang sebaiknya diberikan, hingga berusia 18 tahun.
1. Hepatitis B (HB-0)
Imunisasi ini jadi suntikan pertama yang diterima bayi, biasanya dalam waktu 24 jam setelah lahir. Tujuannya untuk melindungi bayi dari virus hepatitis B yang menyerang hati. Infeksi ini bisa berakibat fatal jika berkembang menjadi kronis.
Karena itu, pemberian vaksin sejak dini sangat penting, apalagi bayi bisa tertular dari ibu saat proses persalinan. Banyak orang tua yang belum tahu, tapi efek hepatitis B sering kali baru muncul saat anak sudah besar. Dengan imunisasi ini, bayi sudah punya tameng perlindungan sejak hari pertama hidupnya.
Baca juga: Produk Perawatan Bayi Bisa Membahayakan Lo! Yuk, Bijak Memilih!
2. BCG (Bacillus Calmette–Guérin)
BCG diberikan satu kali saja, biasanya saat bayi berusia 1–2 bulan. Vaksin ini berfungsi mencegah penyakit tuberkulosis (TBC), terutama yang menyerang paru-paru dan otak.
TBC termasuk penyakit menular yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Kalau sudah kena, proses penyembuhannya panjang dan melelahkan. Karena itu, lebih baik mencegah sejak awal. Tanda vaksin ini berhasil biasanya muncul dalam bentuk bekas luka kecil di lengan bayi.
3. Polio 1 (OPV-1)
Vaksin polio pertama diberikan pada usia 1–2 bulan. Polio adalah penyakit yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Penularannya cepat, terutama lewat makanan atau air yang terkontaminasi. Sekali kena, dampaknya bisa seumur hidup.
Karena itu, imunisasi polio menjadi salah satu yang paling penting di masa bayi. Prosesnya mudah, biasanya lewat tetesan cairan ke mulut bayi.
4. DTP-HB-Hib 1 (Usia 2 Bulan)
Vaksin ini bentuknya kombinasi. Jadi sekali suntik bisa melindungi dari lima penyakit sekaligus, yakni difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, dan infeksi Hib yang bisa menyebabkan meningitis.
Saat anak masih kecil, daya tahan tubuhnya belum kuat, jadi perlindungan ini sangat penting. Dosis pertama diberikan pada usia dua bulan, lalu diulang beberapa kali agar kekebalannya terbentuk sempurna. Mungkin setelah imunisasi anak agak rewel, tapi itu reaksi normal. Biasanya hanya karena tubuhnya sedang menyesuaikan diri.
5. Polio 2 (OPV-2)
Dosis kedua polio diberikan untuk memperkuat kekebalan tubuh. Polio bisa menyerang siapa saja, tapi bayi dan anak-anak paling rentan. Dengan pemberian vaksin lebih dari sekali, tubuh anak punya “ingatan imun” yang lebih kuat. Jadi, kalau virus masuk, tubuh sudah tahu cara melawannya.
Imunisasi ini sering diberikan bersamaan dengan jenis imunisasi anak lengkap lainnya, biar praktis dan tidak bolak-balik ke puskesmas. Mams cukup memastikan jadwalnya enggak terlewat.
6. DTP-HB-Hib 2 (Usia 3 Bulan)
Vaksin kombinasi ini diulang di usia tiga bulan. Tujuannya untuk memperkuat antibodi yang sudah mulai terbentuk dari suntikan pertama.
Penyakit seperti difteri dan tetanus bisa berakibat fatal jika enggak segera dicegah. Begitu juga dengan batuk rejan yang bisa membuat anak kesulitan bernapas.
Mungkin Mams merasa repot karena jadwal imunisasi cukup sering di awal-awal, tapi sebenarnya ini masa paling krusial. Sekali tubuh sudah punya kekebalan kuat, perlindungannya bisa bertahan lama.
7. Polio 3 (OPV-3)
Dosis ketiga polio diberikan sekitar usia tiga bulan. Walaupun terdengar berulang, setiap dosis berperan penting membangun sistem imun yang lengkap.
Virus polio bisa bertahan lama di lingkungan kotor, bahkan di air. Jadi, perlindungan berlapis sangat dibutuhkan. Biasanya vaksin ini enggak menimbulkan efek samping berat. Anak mungkin hanya sedikit rewel, tapi itu wajar. Setelah beberapa kali imunisasi, tubuhnya akan semakin kuat melawan infeksi.
8. DTP-HB-Hib 3 (Usia 4 Bulan)
Dosis ketiga ini melengkapi rangkaian imunisasi anak lengkap dasar. Setelahnya, kekebalan anak terhadap lima penyakit berbahaya akan semakin stabil. Orang tua sebaiknya menyimpan catatan imunisasi dengan baik agar enggak ada yang terlewat.
Kadang anak menunjukkan gejala ringan seperti demam atau kemerahan di bekas suntikan. Itu tanda bahwa tubuh sedang bekerja membangun pertahanan. Biasanya, kondisi anak akan kembali normal dalam satu atau dua hari.
9. Polio 4 dan IPV
Pada usia empat bulan, anak menerima polio keempat dan satu dosis IPV (polio suntik). IPV bekerja lebih dalam karena menstimulasi kekebalan di darah dan sistem saraf. Ini membantu melengkapi perlindungan dari polio yang bisa menyebabkan kelumpuhan.
Walaupun penyakit ini sudah jarang ditemukan, risikonya tetap ada. Itulah kenapa vaksin polio masih wajib diberikan. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.
10. Campak atau MR (Usia 9–12 Bulan)
Campak bukan penyakit ringan seperti yang banyak orang kira. Bisa menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang otak.
Vaksin MR melindungi anak dari dua penyakit sekaligus, yaitu campak dan rubella. Diberikan satu kali di usia 9–12 bulan, lalu diulang lagi beberapa tahun kemudian. Setelah imunisasi ini, anak biasanya lebih tahan terhadap penyakit menular di lingkungan sekitar. Karena penyakit seperti campak cepat menular, imunisasi ini wajib dilakukan tepat waktu.
11. DTP-HB-Hib Booster (Usia 18 Bulan)
Ini dosis penguat atau booster untuk vaksin kombinasi. Setelah tubuh anak berusia lebih besar, kekebalan dari imunisasi awal bisa mulai menurun. Booster ini menjaga agar perlindungan tetap aktif.
Penyakit seperti difteri dan tetanus bisa kembali menyerang jika antibodi melemah. Jadi, meskipun anak terlihat sehat, imunisasi tetap perlu dilanjutkan. Biasanya diberikan bersamaan dengan booster polio dan campak.
12. DT dan Campak/MR Booster (Usia 5–7 Tahun)
Sebelum masuk SD, anak akan mendapat vaksin DT dan booster MR. Vaksin ini penting untuk memastikan perlindungan terhadap difteri, tetanus, dan campak tetap kuat.
Di usia sekolah, anak mulai sering berinteraksi dengan banyak orang, jadi risikonya pun meningkat. Dengan booster ini, tubuh anak lebih siap menghadapi paparan berbagai virus. Reaksi ringan seperti nyeri di tempat suntikan itu normal. Biasanya hilang dalam waktu singkat.
13. HPV (Usia 9–13 Tahun)
Vaksin ini awalnya diperuntukkan bagi anak perempuan. Tujuannya mencegah infeksi virus HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks dan penyakit kelamin. Diberikan dua kali dengan jarak enam bulan.
Semakin muda usia pemberian, hasilnya semakin efektif. Banyak orang tua ragu, padahal vaksin ini adalah bentuk perlindungan jangka panjang yang sangat penting untuk masa depan anak.
14. Td atau Tdap (Usia 10–18 Tahun)
Vaksin ini merupakan lanjutan dari DTP, tapi diberikan saat anak sudah remaja. Tujuannya untuk menjaga kekebalan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis. Biasanya diberikan setiap sepuluh tahun sekali.
Imunisasi ini juga penting untuk melindungi remaja dari penyakit yang bisa menular ke bayi di sekitarnya, seperti batuk rejan. Dengan dosis penguat ini, sistem kekebalan tubuh anak tetap stabil hingga dewasa.
Baca juga: Ternyata Depresi Pasca Kelahiran Juga Terjadi pada Papa. Begini Gejalanya!
Menjaga kesehatan si kecil lewat imunisasi anak lengkap sama artinya dengan menyiapkan masa depan yang lebih tenang. Saat anak terlindungi dari berbagai penyakit, orang tua pun bisa fokus membangun kehidupan yang lebih baik tanpa rasa khawatir.
Salah satu caranya adalah mulai berpikir tentang keamanan finansial jangka panjang. Seperti halnya imunisasi yang jadi “perlindungan awal” untuk tubuh, investasi juga bisa jadi “perlindungan awal” untuk masa depan keluarga.
Mams bisa mulai dari langkah kecil bersama Goro, platform investasi properti yang memberi kesempatan menikmati passive income dari sewa vila di Bali. Rasanya seperti punya properti sendiri di pulau wisata, bahkan bisa dimulai dari Rp10.000 saja. Kalau penasaran, bisa langsung klik di sini dan lihat bagaimana caranya investasi ringan bisa bantu Mams merencanakan masa depan seaman anak yang sudah imunisasi lengkap.
Reviewed by Carolina Ratri
on
Oktober 31, 2025
Rating:

Tidak ada komentar